Sabtu, 21 September 2013

Perbedaan Kurikulum 2013 dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada Mata Pelajaran Kimia

KURIKULUM 2013
KTSP
Dasar-Dasar Perhitungan Kimia

X.3.3 Mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik sederhana serta persamaan reaksinya
X.2.1. Mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik sederhana serta persamaan reaksinya
X.3.4 Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapan konsep mol dalam perhitungan kimia
X.2. Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kimia (stoikiometri)
X.4.4 Menuliskan reaksi kimia dengan benar

X.4.5 Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui percobaan serta meneraokan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia sederhana
X.2.2. Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui percobaan


Laju dan Kesetimbangan Reaksi

XI.3.5 Memahami pengertian laju reaksi berdasarkan data hasil percobaan
XI.3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan
XI.3.6 Memahami teori tumbukan (tabrakan) untuk menjelaskan faktor-faktor penentu laju reaksi dan orde reaksi serta terapannya dalam kehidupan sehari-hari
XI.3.2. Memahami teori tumbukan (tabrakan) untuk menjelaskan faktor-faktor penentu laju
XI.3.7 Menjelaskan pengertian kesetimbangan dan faktor –faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan

XI.3.8 Menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan
XI.3.4. Menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan
XI.3.9 Menjelaskan penerapan prinsip kesetimbangan dalam kehidupan sehari-hari dan industri
XI.3.5. Menjelaskan penerapan prinsip kesetimbangan dalam kehidupan sehari-hari dan industri
XI.4.6 Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi (konsentrasi, suhu, katalis, ukuran)
XI.3.3. menjelaskan kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran
XI.4.7 Menentukan orde reaksi berdasarkan interpretasi data percobaan

XI.4.8 Melakukan percobaan untuk menjelaskan pengertian kesetimbangan kimia dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan



Termokimia

XI.3.4 menentukan ∆H reaksi berdasarkan hukum Hess dan berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan standar, dan data energi ikatan
XI.4.1. Menentukan ∆H reaksi berdasarkan percobaan, hukum Hess, data perubahan entalpi
XI.4.4 Merancang dan melakukan percobaan untuk mendeskripsikan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm
XI.2.1. Mendeskripsikan perubahan entalpi suatu reaksi, reaksi eksoterm, dan reaksi endoterm

XI.4.5 Melakukan percobaan untuk menentukan ∆H suatu reaksi



Larutan Asam Basa

XI.3.10 Mendeskripsikan teori asam-basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan
XI.4.1 Mendeskripsikan teori-teori sam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan
XI.3.11 Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit dari hasil titrasi asam basa
XI.4.2 Menghitung banyaknya pereaksi dari hasil reaksi dalam larutan elektrolit dan hasil titrasi asam basa
XI.3.12 Mendeskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup
XI.4.3 Mendeskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup
XI.3.13 memahami garam-garam yang mengalami hidrolisis

XI.3.14 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kali kelarutan (Ksp)

XI.4.9 Melakukan percobaan menentukan nilai pH suatu larutan

XI.4.10 Memprediksi titik ekivalen melalui titik akhir titrasi asam basa

XI.4.11 Melakukan percobaan untuk mendeskripsikan sifat larutan penyangga serta peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup dan menghitung pH-nya
XI.4.5 Menggunakan kurva perubahan harga pH pada titrasi asam basa
XI.4.12 Melakukan percobaan untuk mengetahui jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dengan menggunakan indikator universal dan pH larutan garam tersebut
XI.4.4 Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut
XI.4.13 Melakukan percobaan untuk menentukan hasil kali kelarutan serta memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kali kelarutam (Ksp)
XI.4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali kelarutan
XII.3.1 Menjelaskan penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan osmosis termasuk sifat koligatif larutan
XII.1.1 Menjelaskan penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku larutan
XII.4.2 Membandingkan antara sifat koligatif larutan non elektrolit dengan sifat koligatif larutan elektrolit yang konsentrasinya sama berdasarkan data percobaan

XII.4.1 Melakukan percobaan untuk mengetahui penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan osmosis larutan



Koloid

XI.3.15 Mengelompokan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

XI.5.2 Mengelompokan siafat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
XI.4.14 Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya serta menganalisis sifat-sifat dari sistem koloid yang dibuat
XI.5.1 Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya


Redoks

X.3.5 Memahami sifat-sifat larutan non elektrolit dan elektrolit

X.3.6 Memahami perkembangan konsep reaksi oksidasi-reduksi serta penentuan bilangan oksidasi atom dalam molekul atau ion
X.3.2 Menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi-reduksi dan hubungannya dengan tata nama senyawa serta penerapannya
X.4.6 Merancang dan melakukan percobaan untuk mengetahui sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit
X.3.1 Mengidentifikasi sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit berdasarkan data hasil percobaan
X.4.7 Menuliskan rumus senyawa dan nama senyawa berdasarkan konsep bilangan oksidasi

XII.3.2 Menjelaskan perbedaan sifat koligatif larutan elektrolit dan non-elektrolit
XII.1.2 Membandingkan antara sifat koligatif larutan non-elektrolit dengan sifat koligatif
XII.3.3 Menerangkan konsep reaksi oksidasi-reduksi dalam sistem elektrokimia yang melibatkan energi listrik dan kegunaannya dalam mencegah korosi dan dalam industri
XII.2.1 Menerapkan konsep reaksi oksidasi-reduksi dalam sistem elektrokimia
XII.3.4 Menjelaskan reaksi oksidasi-reduksi dalam sel elektrolisis
XII.2.2 Menjelaskan reaksi oksidasi-reduksi dalam sel elektrolisis
XII.3.5 Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi korosi melalui percobaan
XII.2.3 Menerapkan hukum Faraday untuk elektrolisis larutan elektrolit
XII.4.4 Merancang dan melakukan percobaan untuk menyepuh suatu logam dengan logam lain

XII.4.3 Menyajikan data penerapan sel volta dalam kehidupan sehari-hari



Kimia Unsur

XII.3.6 Mengidentifikasikan kelimpahan unsur utama dan transisi dan produk yang mengandung unsur tersebut dalam kehidupan sehari-hari
XII.3.1 Mengidentifikasi kelimpahan unsur-unsur utama dan transisi di alam dan produk yang mengandung unsur tersebut
XII.3.7 Mendeskripsikan kecenderungan sifat fisik dan kimia unsur utama dan unsur transisi (titik didih, titik leleh, kekerasan, warna, kelarutan, kereaktifan, dan sifat khusus lainnya)
XII.3.2 Mendeskripsikan kecenderungan sifat fisik dan kimia unsur utama dan unsur transisi
XII.3.8 Menjelaskan manfaat, dampak dan proses pembuatan unsur-unsur dan senyawanya dalam kehidupan sehari-hari
XII.3.3 Menjelaskan manfaat, dampak dan proses pembuatan unsur-unsur dan senyawanya dalam kehidupan sehari-hari
XII.3.4.5 Melakukan percobaan untuk mendeskripsikan kecenderungan sifat fisik dan kimia unsur utama dan transisi (titik didih, titik leleh, kekerasan, warna, kelarutan, kereaktifan, dan sifat khusus lainnya)

XII.4.6 Melakukan percobaan untuk menjelaskan pembuatan dan sifat-sifat beberapa unsur dan senyawa yang penting dalam kehidupan

Radioaktif

XII.3.9 Mendeskripsikan unsur-unsur radioaktif dari segi sifat-sifat fisik dan sifat-sifat  kimia, kegunaan, dan bahayanya
XII.3.4 Mendeskripsikan unsur-unsur radioaktif dan segi sifat-sifat fisik dan sifat-sifat kimia kegunaan dan bahayanya
XII.4.7 Menyajikan data tentang dampak positif dan negatif energi nuklir bagi manusia



Organik

X.3.7 Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa hidrokarbon
X.4.1 Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa hidrokarbon
X.3.8 Menjelaskan penggolongan senyawa hidrokarbon berdasarkan struktur dan hubungannya dengan sifat senyawa
X.4.2 Menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan strukturnya dan hubungannya dengan sifat senyawa
X.3.9 Memahami proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi serta kegunaannya
X.4.3 Menjelaskan proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi serta kegunaannya
X.3.10 Menjelaskan kegunaan dan komposisi hidrokarbon dalam kehidupan sehari-hari
X.4.4 Menjelaskan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam kehidupan sehari-hari
XII.3.10 Mendeskripsikan struktur, cara penulisan, tata nama, sifat dan kegunaan senyawa karbon (halo alkana, alkanol, alkoksi alkana, alkanal, alkanol, asam alkanoat, dan alkil alkanoat)
XII.4.1 Mendeskripsikan struktur, cara penulisan, tata nama, sifat, kegunaan dan identifikasi senyawa karbon (halo alkana, alkanol, alkoksi alkana, alkanal, alkanol, asam alkanoat, dan alkil alkanoat)
XII.3.11 Mendeskripsikan struktur, cara penulisan, tata nama, sifat, dan kegunaan benzena dan turunannya
XII.4.2 Mendeskripsikan struktur, cara penulisan, tata nama, sifat, dan kegunaan benzena dan turunannya
XII.3.12 Mendeskripsikan struktur, cara penulisan, tata nama, sifat, dan penggolongan makromolekul (polimer, karbohidrat, dan protein)
XII.4.3 Mendeskripsikan struktur, cara penulisan, tata nama, sifat, dan penggolongan makromolekul (polimer, karbohidrat, dan protein)
XII.3.13 Mendeskripsikan struktur, tata nama, penggolongan, sifat, dan kegunaan lemak
XII.4.4 Mendeskripsikan struktur, tata nama, penggolongan, sifat, dan kegunaan lemak
XII.4.8 Melakukan percobaan untuk menjelaskan sifat dan identifikasi senyawa karbon (halo alkana, alkanol, alkoksi alkana, alkanal, alkanol, asam alkanoat, dan alkil alkanoat)

XII.4.9 Melakukan percobaan untuk mendeskripsikan sifat-sifat makromolekul (polimer, karbohidrat, dan protein)

XII.4.10 Menyajikan dan mengkomunikasikan data tentang sifat-sifat dan kegunaan lemak serta pengaruhnya bagi tubuh manusia

X.4.8 Menyajikan hasil diskusi kelompok tentang penggolongan senyawa hidrokarbon berdasarkan struktur dan hubungannya dengan sifat senyawa

X.4.9 Menyajikan hasil diskusi kelompok tentang proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi beserta kegunaannya


X.4.10 Menyajikan hasil diskusi tentang dampak positif dan negatif pemakaian hidrokarbon dalam kehidupan sehari-hari

X.4.11 Menyajikan hasil analisis dampak pembakaran hidrokarbon terhadap perubahan iklim (peningkatan suhu bumi)



setelah kita melihat perbedaan di atas kita dapat mengetahui bahwa pada kurikulum 2013 ini ada banyak topik pembahasan yang ditambahkan, dikhususkan  bahkan diperluas pokok pembahasannya.

Selasa, 17 September 2013

Teori Pengetahuan (FILSAFAT MIPA)




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 EPISTEMOLOGI (TEORI PENGETAHUAN)
1.Pengertian epistemologi.
Istilah epistemology dipakai pertama kali oleh J.F.Fereire yang maksudnya untuk membedakan antara dua cabang filsafat, yakni epistemologi dan ontologi (metafisika umum). Kalau dalam metafisika, pertanyaan pokoknya adalah “apakah hal yang ada itu?” maka pertanyaan dasar dalam epistemologi adalah”apakah yang dapat saya ketahui?”.
Epistemologi berasal dai kata Yunani ”Episteme” dan “Logos”. Episteme biasa diratikan pengatahuan atau kebenaran dan Logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa inggrisnya menjadi Theory of Knowledge(Surajiyo,2005,hlm 53).
J.A. Neils Mulder menuturkan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan berlakunya dari ilmu pengetahuan. Jacques Veuger mengemukakan, epistemologi adalah pengetahuan tentang yang kita miliki sendiri bukannya pengetahuan orang lain. Pendek kata pengetahuan kita yang mengetahui pengetahuan kita.
Abbas hamami memberikan pendapat bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tantang terjadinya pengetahuan yang telah terjadi itu.
Apabila kita perhatikan definisi dari epistemologi tampak bahwa semua pendapat hampir senada(Surajiyo,2005,hlm. 55).

2.Istilah-istilah lain yang setara dengan epistemologi adalah:
1.Kritika pengetahuan.
2.Gnoseologi.
3.Kriteriologi.
4.Logika material.
5.Filsafat pengetahuan.


1.Kritika pengetahuan.
Maksud dari kritika di sini adalah sejenis usaha manusia untuk menetapkan, Apakah sutu pikiran atau pengetahuan manusia itu sudah benar atau tidak benar dengan jalan meninjaunya secara mendalam. Jadi secara singkat dapatlah dikatakan bahwa kritika pengetahuan menunjukkan kepada suatu ilmu pengetahuan yang berdasarkan tinjauan secara mendalam berusaha menentukan benar tidaknya suatu pemikiran atau pengetahuan manusia.
2.Gnoseologi.
Istilah gnoseologi berasal dari kata “Gnosis” dan “Logos”, dalam hal ini Gnosis berarti pengetahuan yang nersifat keilahian, sedang Logos berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian, gnoseologi berarti ilmu pengetahuan atau cabang filsafat yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan. Khususnya pengetahuan yang bersifat keilahian.
3.kriteriologi.
Istilah kriteriologi berasal dari kata kriterium yang berarti ukuran. Dalam hal ini yang dimasud adalah ukuran untuk menetapkan benar tidaknya suatu pemikiran atau pengetahuan tertentu. Dengan demikian, kriteriologi merupakan cabang filsafat yang berusaha untuk menetapkan benar tidaknya suatu pemikiran atau pengetahuan berdasarkan ukuran tentang kebenaran.


4.Logika material.
Istilah logika material sudah mengandaikan adanya ilmu pengetahuan yang lain yang disebut logika formal. Sesungguhnya istilah logika material ini secara khusus hanya terdapat pada kepustakaan kefilsafatan belanda.
Apabila logika formal menyangkut dengan bentuk pemikiran maka logika material menyangkut isi pemikiran. Dengan kata lain, apabila logika formal yang biasa disebut logika, berusaha untuk menyelidiki dan menetapkan bentuk pemikiran yang masuk akal, sedangkan logika material berusaha untuk menetapkan kebenaran dari suatu pemikiran ditinjau dari segi isinya.
5.Filsafat pengetahuan.
hakikat Secara singkat bahwa filsafat pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan mengenai masalah hakikat pengetahuan. Apabila kita ingin berbicara tentang filsafat pengetahuan maka yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu ilmu pengetahuan kefilsafatan yang yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang pengetahuan.

2.2 METODE ILMIAH
1 .Pengertian Metode ilmiah.
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencangkup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk mendapatkan pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Metode secara etimologi berasal dari bahasa yunani”Meta”dan”Hodos”, Meta yang berarti sesudah dan Hodos yang berarti jalan. Jadi metode berarti langkah-langkah yang diambil, menurut urutan tertentu, untuk mencapai suatu pengetahuan yang benar yaitu suatu tata cara, teknik, atau jalan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun baik pengetahuan humanistik dan historis, ataupun pengetahuan filsafat dan ilmiah.
Metode ilmiah biasanya disebut juga metodologi. Metodologi merupakan bagian dari epistemologi yang mengkaji perihal urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Manakalah kita membicarakan metodologi, maka hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatar belakangi berbagai metode yang dipergunakan dalam aktifitas ilmiah. Asumsi yang dimaksud adalah pendirian atau sikap yang akan dikembangkan para ilmuan di dalam kegiatan ilmiah mereka(Rizal Muntansyir dan Misnal Munir, 2003 ,hlm. 107).2
2. Macam-macam metode Ilmiah
Secara garis besar metode ilmiah dibagi dua,yaitu:
a.Metode ilmiah yang bersifat umum
Metode ilmiah yang bersifat umum dibagi menjadi dua, yaitu metode analitiko-sintesa dan metode nondeduksi. Metode analitiko-sintesa merupakan gabungan dari metode analisis dan metode sintesa. Metode nondeduksi merupakan gabungan dari metode induksi dan metode induksi.

Metode analitis ialah cara penanganan terhadap suatu objek ilmia tertentu dengan jalan memilah-milahkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya. Apa bila kita menggunakan metode analisis, dalam bagian terakhir kita akan memperoleh pengetahuan analitis. Pengetahuan analitis itu ada dua macam, yaitu pengetahuan analitis apriori dan pengetahuan analitis aposteriori.
Metode sintesa ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengan cara menggabungan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya sehingga menghasilkan suatu pengetahuan yang baru.
Metode deduksi ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengan cara menarik kesimpulan mengenai hal-hal yang bersifat khusus berdasarkan atas hal-hal yang bersifat umum.
Metode induksi ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengan cara menarik kesimpulan yang bersifat umum atau yang bersifat lebih umum berdasarkan atas pemahaman dan pengamatan terhadap sejumlah hal yang bersifat khusus.
b.Metode penyelidikan ilmiah.
Metode penyelidikan ilmiah dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode penyelidikan yang berbentuk daur/metode siklus empiris dan metode vertikal atau yang berbentuk garis lempang/metode linier.
Yang dinamakan metode siklus empiris adalah suatu penanganan terhadap suatu objek ilimah tertentu yang bersifat empiris-kealaman dan penerapannya dilakukan di tempat tertutup, seperti di dalam laboratorium dan sebagainya.
Metode vertikal digunakan dalam penyelidikan yang pada umumnya mempunyai objek material hal-hal yang pada dasarnya bersifat kejiwaan, yaitu yang lazimnya berupa atau terjelma dalam tingkah laku manusia dalam berbagai bidang kehidupan, seperti dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan sebagainya.

2.3 KEBENARAN ILMIAH
1.Arti kebenaran.
Kata ”kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat, atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri.
Adanya berbagai macam kategori sebagaimana disebut di atas, maka tidaklah belebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan yang lainnya(Tim Dozen Filsfat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2003, hlm. 135).3
Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan sudah di mulai sejak plato kemudian dilanjutkan oleh Aristoteles. Plato memulai metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang paling awal. Sejak itulah teori pengetahuan berkembang terus untuk mendapatkan berbagai penyempurnaan hingga kini.
Untuk mengetahui teori kebenaran kita mempunyai nilai kebenaran atau tidak. Hal ini berhubungan dengan sikap, bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Apakah hanya kegiatan dan kemampuan akal pikir ataukah melalui kegiatan indra? Yang jelas bagi seorang skeptis pengetahuan tidaklah mempunyai nilai kebenaran, karena semua itu meragukan atau keraguan itulah yang merupakan kebenaran.
2. Macam-macam teori kebenaran.
Secara tradisional teori-teori kebenaran itu adalah sebagai berikut:
1.Teori kebenaran saling berhubungan(CoherenceTheory of Truth).
Teori koherensi di bangun oleh para pemikir rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, Hegel, dan Brandley. Menurut Kattsof f(1986) dalam bukunya Elements of philosophy teori koherensi dijelaskan bahwa”... Suatu proposisi cenderung benar jika proposisi itu dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi lain yang benar, atau makna yang dikandungnya dalam keadaan salin berhubungan dengan pengalaman kita.
Dengan memperhatikan teori Kattsoff di atas, dapat diungkapkan bahwa suatu proposisi itu benar apabila berhubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada atau benar, atau juga apabila proposisi itu berhubungan dengan proposisi terdahulu yang telah benar. Pembuktian teori kebenaran koherensi dapat melelui fakta sejarah apabila merupakan proposisi sejarah atau memakai logika dengan pernyataan yang bersifat logis.
2.Teori kebenaran saling berkesesuaian(Correspondence Theory of Truth).
Teori kebenaran korespondensi paling awal dan paling tua yang berangkat dari pengetahuan aristoteles yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek.
Proposisi ini berpandangan bahwa suatu proposisi bernilai benar apabila saling berkesesuaian dengan dunia nyata. Kebenaran ini dapat dibuktikan langsung pada dunia nyata.
3.Teori kebenaran inherensi(Inherent Theory of Truth).
Kadang-kadang teori ini disebut juga teori pragmatis. Pandangannya adalah suatu proposisi bernilai benar apabila memiliki konsekuensi yang dapat dipergunakan atau dimanfaatkan.Kattsoff (1986) menguraikan tentang kebenaran teori pragmatis ini, bahwa penganut pragmatisme meletakkan ukuran kebenaran dalam satu jenis konsekuensi. Atau peoposisi itu dapat membantu untuk mengadakan penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman.
4.Teori kebekaran berdasarkan arti(Semantik Theory of Truth).
Yaitu proposisi yang ditinjau dari segi arti dan maknanya. Apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya mempunyai referensi yang jelas. Oleh karena itu, teori ini memiliki tugas untuk menguak kesahan dari proposisi dalam referensinya.
Teori kebenaran semantik dianut oleh faham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan paska filsafat Betrand Russell sebagai tokoh pemula dari filsafat analitika bahasa.
5.Teori kebenaran sintaksis..
Para penganut teori kebeharan sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekat. Sustu pernyataan memiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan sintaksis yang baku, dengan kata lain apabila pernyataan tersebut tidak mengikuti aturan atau keluar dari yangdisyaratkan maka proposisi itu tidak memiliki arti. Teori ini berkembang diantara para filsuf analisis bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika.
6.Teori kebenaran nondeskripsi.
Teori kebenaran non deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Karena pada dasarnya suatu statement atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung peran dan fungsi dari pernyataan itu.
7.Teori kebenaran logis yang berlebihan(Logical sSuperfluity of Truth).
Teori ini dikembangkan oleh positivistik yang di awali oleh Ayer. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini, bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan berakibat suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masing-masing saling melingkupinya.


KESIMPULAN
Dari makalah yang telah kami buat, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang teori pengatahuan yang benar dan lazim. Dengan mempelajiri epistemologi kita dapat mengetahui kebenaran dari sebuah pengatahuan.
Sedangkan metode ilmiah adalah suatu prosedur yang mencangkup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Atau dengan kata lain metode ilmiah merupakan langkah-langkah untuk menentukan sebuah pengetahuan itu mempunyai kebenaran atau tidak.
Macam-macam teori kebenaran antara lain:
1.Teori kebenaran saling berhubungan(Coherence Theory of Truth).
2.Teori kebenaran saling berkesesuaian(Correspondence Theory of Truth).
3.Teori kebenaran inherensi(Inherent Theory of Truth).
4.Teori kebenaran berdasarkan arti(Semantic Theory of Truth).
5.Teori kebenaran sintaksis.
6.Teori kebenaran nondeskripsi.
7.Teori kebenaran logis yang berlebihan(Logikal Superfluity of Truth).
















DAFTAR PUSTAKA
Muntansyir,Rizal dan Misnal Munir. 2003. Filsafat Ilmu, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Tim Dozen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM.2003. Filsafat Ilmu.Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta:Bumi Aksara.